Saturday, 21 November 2015
Friday, 20 November 2015
10 Alasan Kenapa Laki-Laki Harus Shalat Berjamaah Di Masjid
Memang ada ikhtilaf ulama
apakah Wajib Ain bagi laki-laki hukumnya shalat berjamaah di masjid atau
hukumnya sunnah saja. Akan tetapi pendapat terkuat hukumnya wajib. Dengan
beberapa alasan berikut:
1. Allah yang langsung memerintahkan
dalam al-Quran agar shalat berjamaah.
Allah Ta’ala berfirman,
وَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ وَءَاتُوا الزَّكَاةَ
وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ
“Dan dirikanlah shalat,
tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.” (Al-Baqarah: 43)
Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata,
، فلا بد لقوله { مع الراكعين } من فائدة أخرى وليست إلا فعلها مع
جماعة المصلين والمعية تفيد ذلك
“makna firman Allah “ruku’lah
beserta orang-orang yang ruku’, faidahnya yaitu tidaklah dilakukan kecuali
bersama jamaah yang shalat dan bersama-sama.”[1]
2. saat-saat perang
berkecamuk, tetap diperintahkan shalat berjamaah. Maka apalagi suasana aman dan
tentram. Dan ini perintah langsung dari Allah dalam al-Quran
Allah Ta’ala berfirman,
وَإِذَا كُنتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلاَةَ
فَلْتَقُمْ طَآئِفَةُُ مِّنْهُم مَّعَكَ وَلِيَأْخُذُوا أَسْلِحَتَهُمْ فَإِذَا
سَجَدُوا فَلْيَكُونُوا مِن وَرَآئِكُمْ وَلْتَأْتِ طَآئِفَةٌ أُخْرَى لَمْ
يُصَلُّوا فَلْيُصَلُّوا مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا حِذْرَهُمْ وَأَسْلِحَتَهُمْ وَدَّ
الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ تَغْفُلُونَ عَنْ أَسْلِحَتِكُمْ وَأَمْتِعَتِكُمْ
فَيَمِيلُونَ عَلَيْكُم مَّيْلَةً وَاحِدَةً وَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِن كَانَ
بِكُمْ أَذًى مِّن مَّطَرٍ أَوْ كُنتُم مَّرْضَى أَن تَضَعُوا أَسْلِحَتَكُمْ
وَخُذُوا حِذْرَكُمْ إِنَّ اللهَ أَعَدَّ لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُّهِينًا
“Dan apabila kamu berada di
tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat
bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat)
besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat
bersamamu) sujud (telah menyempurnakan satu rakaat), maka hendaklah
mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang
golongan yang kedua yang belum shalat, lalu shalatlah mereka denganmu.” (An-Nisa’ 102)
Ibnu Mundzir rahimahullah berkata,
ففي أمر الله بإقامة الجماعة في حال الخوف : دليل على أن
ذلك في حال الأمن أوجب .
“pada perintah Allah untuk tetap
menegakkan shalat jamaah ketika takut (perang) adalah dalil bahwa shalat
berjamaah ketika kondisi aman lebih wajib lagi.”[2]
Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah menjelaskan,
وفي هذا دليل على أن الجماعة فرض على الأعيان إذ لم
يسقطها سبحانه عن الطائفة الثانية بفعل الأولى، ولو كانت الجماعة سنة لكان أولى
الأعذار بسقوطها عذر الخوف، ولو كانت فرض كفاية لسقطت بفعل الطائفة الأولى …وأنه
لم يرخص لهم في تركها حال الخوف
“Ayat ini merupakan dalil yang
sangat jelas bahwa shalat berjamaah hukumnya fardhu ain bukan hanya sunnah atau
fardhu kifayah, Seandainya hukumnya sunnah tentu keadaan takut dari musuh
adalah udzur yang utama. Juga bukan fardhu kifayah karena Alloh menggugurkan
kewajiban berjamaah atas rombongan kedua dengan telah berjamaahnya rombongan
pertama… dan Allah tidak memberi keringanan bagi mereka untuk meninggalkan
shalat berjamaah dalam keadaan ketakutan (perang).“[3]
3.Orang buta yang tidak ada
penuntut ke masjid tetap di perintahkan shalat berjamaah ke masjid jika
mendengar adzan, maka bagaimana yang matanya sehat?
Dari Abu Hurairah radhiallahu
anhu dia berkata,
أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
رَجُلٌ أَعْمَى فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ لَيْسَ لِي قَائِدٌ
يَقُودُنِي إِلَى الْمَسْجِدِ فَسَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ أَنْ يُرَخِّصَ لَهُ فَيُصَلِّيَ فِي بَيْتِهِ فَرَخَّصَ لَهُ فَلَمَّا
وَلَّى دَعَاهُ فَقَالَ هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلَاةِ قَالَ نَعَمْ قَالَ
فَأَجِبْ
“Seorang buta pernah menemui
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berujar, “Wahai Rasulullah, saya tidak
memiliki seseorang yang akan menuntunku ke masjid.” Lalu dia meminta
keringanan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk shalat di
rumah, maka beliaupun memberikan keringanan kepadanya. Ketika orang itu
beranjak pulang, beliau kembali bertanya, “Apakah engkau mendengar
panggilan shalat (azan)?” laki-laki itu menjawab, “Ia.” Beliau bersabda,
“Penuhilah seruan tersebut (hadiri jamaah shalat).”[4]
Dalam hadits yang lain yaitu,
Ibnu Ummi Maktum (ia buta matanya). Dia berkata,
يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ الْمَدِينَةَ كَثِيرَةُ
الْهَوَامِّ وَالسِّبَاعِ. فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « أَتَسْمَعُ
حَىَّ عَلَى الصَّلاَةِ حَىَّ عَلَى الْفَلاَحِ فَحَىَّ هَلاَ ».
“Wahai Rasulullah, di Madinah
banyak sekali tanaman dan binatang buas. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Apakah kamu mendengar seruan adzan hayya ‘alash sholah, hayya ‘alal
falah? Jika iya, penuhilah seruan adzan tersebut”.”[5]
4.wajib shalat berjamaah di
masjid jika mendengar adzan
Sabda Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam,
مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِهِ فَلَا صَلَاةَ
لَهُ إِلَّا مِنْ عُذْرٍ
“Barangsiapa yang mendengar
azan lalu tidak mendatanginya, maka tidak ada shalat baginya, kecuali
bila ada uzur.” [6]
5.Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam memberikan ancaman kepada laki-laki yang tidak shalat
berjamaah di masjid dengan membakar rumah mereka.
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda,
إِنَّ أَثْقَلَ صَلَاةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ
الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا
وَلَوْ حَبْوًا وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَتُقَامَ ثُمَّ آمُرَ
رَجُلًا فَيُصَلِّيَ بِالنَّاسِ ثُمَّ أَنْطَلِقَ مَعِي بِرِجَالٍ مَعَهُمْ حُزَمٌ
مِنْ حَطَبٍ إِلَى قَوْمٍ لَا يَشْهَدُونَ الصَّلَاةَ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ
بُيُوتَهُمْ بِالنَّارِ
“Shalat yang dirasakan paling
berat bagi orang-orang munafik adalah shalat isya dan shalat subuh. Sekiranya mereka mengetahui keutamaannya,
niscaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak. Sungguh aku
berkeinginan untuk menyuruh seseorang sehingga shalat didirikan, kemudian
kusuruh seseorang mengimami manusia, lalu aku bersama beberapa orang
membawa kayu bakar mendatangi suatu kaum yang tidak menghadiri shalat, lantas
aku bakar rumah-rumah mereka.”[7]
Ibnu Mundzir rahimahullah berkata,
وفي اهتمامه بأن يحرق على قوم تخلفوا عن الصلاة بيوتهم
أبين البيان على وجوب فرض الجماعة
“keinginan beliau (membakar
rumah) orang yang tidak ikut shalat berjamaah di masjid merupakan dalil yang
sangat jelas akan wajib ainnya shalat berjamaah di masjid”[8]
6.tidak shalat berjamaah di
masjid di anggap “munafik” oleh para sahabat.
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu
anhu dia berkata:
وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا إِلَّا
مُنَافِقٌ مَعْلُومُ النِّفَاقِ وَلَقَدْ كَانَ الرَّجُلُ يُؤْتَى بِهِ يُهَادَى
بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ حَتَّى يُقَامَ فِي الصَّفِّ
“Menurut pendapat kami (para
sahabat), tidaklah seseorang itu tidak hadir shalat jamaah, melainkan
dia seorang munafik yang sudah jelas kemunafikannya. Sungguh dahulu
seseorang dari kami harus dipapah di antara dua orang hingga diberdirikan si
shaff (barisan) shalat yang ada.”[9]
7.shalat berjamaah mendapat
pahala lebih banyak
Dalam satu riwayat 27 kali
lebih banyak
Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda,
صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ
بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً
“Shalat berjamaah itu lebih
utama daripada shalat sendirian dengan 27 derajat.”[10]
diriwayat yang lain 25 kali
lebih banyak:
Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda,
صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ تَعْدِلُ خَمْسًا وَعِشْرِينَ مِنْ
صَلَاةِ الْفَذِّ
“Shalat berjamaah itu lebih
utama daripada shalat sendirian dengan 25 derajat.”[11]
Banyak kompromi hadits
mengenai perbedaan jumlah bilangan ini. Salah satunya adalah “mafhum
adad” yaitu penyebutan bilangan tidak membatasi.
8.keutamaan shalat berjamaah
yang banyak
Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ كَانَ كَقِيَامِ
نِصْفِ لَيْلَةٍ وَمَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ وَالْفَجْرَ فِي جَمَاعَةٍ كَانَ
كَقِيَامِ لَيْلَةٍ
“Barang siapa shalat isya
dengan berjamaah, pahalanya seperti shalat setengah malam. Barang siapa shalat
isya dan subuh dengan berjamaah, pahalanya seperti shalat semalam penuh.”[12]
9. tidak shalat berjamaah akan
dikuasai oleh setan
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda,
مَا مِنْ ثَلَاثَةٍ فِي قَرْيَةٍ وَلَا بَدْوٍ لَا
تُقَامُ فِيهِمْ الصَّلَاةُ إِلَّا قَدْ اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمْ الشَّيْطَانُ
فَعَلَيْكَ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّمَا يَأْكُلُ الذِّئْبُ الْقَاصِيَةَ
“Tidaklah tiga orang di suatu
desa atau lembah yang tidak didirikan shalat berjamaah di lingkungan mereka, melainkan
setan telah menguasai mereka.Karena itu tetaplah kalian (shalat)
berjamaah, karena sesungguhnya srigala itu hanya akan menerkam kambing yang
sendirian (jauh dari kawan-kawannya).”[13]
10.amal yang pertama kali
dihisab adalah shalat, jika baik maka seluruh amal baik dan sebaliknya, apakah
kita pilih shalat yang sekedarnya saja atau meraih pahala tinggi dengan shalat
berjamaah?
إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ النَّاسُ بِهِ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ مِنْ أَعْمَالِهِمْ الصَّلَاةُ قَالَ يَقُولُ رَبُّنَا جَلَّ وَعَزَّ
لِمَلَائِكَتِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ انْظُرُوا فِي صَلَاةِ عَبْدِي أَتَمَّهَا أَمْ
نَقَصَهَا فَإِنْ كَانَتْ تَامَّةً كُتِبَتْ لَهُ تَامَّةً وَإِنْ كَانَ انْتَقَصَ
مِنْهَا شَيْئًا قَالَ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَإِنْ كَانَ لَهُ
تَطَوُّعٌ قَالَ أَتِمُّوا لِعَبْدِي فَرِيضَتَهُ مِنْ تَطَوُّعِهِ ثُمَّ تُؤْخَذُ
الْأَعْمَالُ عَلَى ذَاكُمْ
Khusus bagi yang mengaku
mazhab Syafi’i (mayoritas di Indonesia), maka Imam Syafi’i mewajibkan shalat
berjamaah dan tidak memberi keringanan (rukshah).
Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata,
وأما الجماعة فلا ارخص في تركها إلا من عذر
“Adapun shalat jama’ah, aku
tidaklah memberi keringanan bagi seorang pun untuk meninggalkannya kecuali bila
ada udzur.”[15]
Berikut ini beberapa keutamaan
shalat berjamaah di masjid.
1. Memenuhi panggilan azan dengan niat untuk melaksanakan shalat berjamaah.
2. Bersegera untuk shalat di awal waktu.
3. Berjalan menuju ke masjid dengan tenang (tidak tergesa-gesa).
4. Masuk ke masjid sambil berdoa.
5. Shalat tahiyyatul masjid ketika masuk masjid. Semua ini dilakukan dengan niat untuk melakukan shalat berjamaah.
6. Menunggu jamaah (yang lain).
7. Doa malaikat dan permohonan ampun untuknya.
8. Persaksian malaikat untuknya.
9. Memenuhi panggilan iqamat.
10. Terjaga dari gangguan setan karena setan lari ketika iqamat dikumandangkan.
11. Berdiri menunggu takbirnya imam.
12. Mendapati takbiratul ihram.
13. Merapikan shaf dan menutup celah (bagi setan).
1 4 . Menjawab imam saat mengucapkan sami’allah.
15. Secara umum terjaga dari kelupaan.
16. Akan memperoleh kekhusyukan dan selamat dari kelalaian.
17. Memosisikan keadaan yang bagus.
18. Mendapatkan naungan malaikat.
19. Melatih untuk memperbaiki bacaan al-Qur’an.
20. Menampakkan syiar Islam.
21. Membuat marah (merendahkan) setan dengan berjamaah di atas ibadah, saling ta’awun di atas ketaatan, dan menumbuhkan rasa giat bagi orangorang yang malas.
22. Terjaga dari sifat munafik.
23. Menjawab salam imam.
24. Mengambil manfaat dengan berjamaah atas doa dan zikir serta kembalinya berkah orang yang mulia kepada orang yang lebih rendah.
25. Terwujudnya persatuan dan persahabatan antartetangga dan terwujudnya pertemuan setiap waktu shalat.
26. Diam dan mendengarkan dengan saksama bacaan imam serta mengucapkan “amiin” saat imam membaca “amiin”, agar bertepatan dengan ucapan amin para malaikat.[16]
1. Memenuhi panggilan azan dengan niat untuk melaksanakan shalat berjamaah.
2. Bersegera untuk shalat di awal waktu.
3. Berjalan menuju ke masjid dengan tenang (tidak tergesa-gesa).
4. Masuk ke masjid sambil berdoa.
5. Shalat tahiyyatul masjid ketika masuk masjid. Semua ini dilakukan dengan niat untuk melakukan shalat berjamaah.
6. Menunggu jamaah (yang lain).
7. Doa malaikat dan permohonan ampun untuknya.
8. Persaksian malaikat untuknya.
9. Memenuhi panggilan iqamat.
10. Terjaga dari gangguan setan karena setan lari ketika iqamat dikumandangkan.
11. Berdiri menunggu takbirnya imam.
12. Mendapati takbiratul ihram.
13. Merapikan shaf dan menutup celah (bagi setan).
1 4 . Menjawab imam saat mengucapkan sami’allah.
15. Secara umum terjaga dari kelupaan.
16. Akan memperoleh kekhusyukan dan selamat dari kelalaian.
17. Memosisikan keadaan yang bagus.
18. Mendapatkan naungan malaikat.
19. Melatih untuk memperbaiki bacaan al-Qur’an.
20. Menampakkan syiar Islam.
21. Membuat marah (merendahkan) setan dengan berjamaah di atas ibadah, saling ta’awun di atas ketaatan, dan menumbuhkan rasa giat bagi orangorang yang malas.
22. Terjaga dari sifat munafik.
23. Menjawab salam imam.
24. Mengambil manfaat dengan berjamaah atas doa dan zikir serta kembalinya berkah orang yang mulia kepada orang yang lebih rendah.
25. Terwujudnya persatuan dan persahabatan antartetangga dan terwujudnya pertemuan setiap waktu shalat.
26. Diam dan mendengarkan dengan saksama bacaan imam serta mengucapkan “amiin” saat imam membaca “amiin”, agar bertepatan dengan ucapan amin para malaikat.[16]
Masih banyak dalil-dalil
lainnya mengenai wajib dan keutamaan shalat berjamaah di masjid.
Alhamdulillahilladzi bi
ni’matihi tatimmush shalihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala
alihi wa shahbihi wa sallam
Makalah Kajian di Mustek
Penyusun: dr. Raehanul Bahraen
[1] Ash-Shalatu
wa hukmu tarikiha hal. 139-141
[2] Al-
Ausath 4/135
[3] Kitab
Sholah hal. 138, Ibnu Qoyyim
[4] HR.
Muslim no. 653
[5] HR.
Abu Daud, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih
[6] HR.
Abu Daud dan Ibnu Majah. dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalamMisykat
al-Mashabih: 1077 dan Irwa’ al-Ghalil no. 551
[7] HR.
Al-Bukhari no. 141 dan Muslim no. 651
[8] Al-Ausath
4/134
[9] HR.
Muslim no. 654
[10] HR.
Bukhari
[11] HR.
Muslim
[12] Fathul
Bari 2/154—157
[13] HR.
Abu Daud no. 547, An-Nasai no. 838, dan sanadnya dinyatakan hasan oleh
An-Nawawi
[14] HR.
Abu Daud no. 964, At-Tirmizi no. 413 dishahih oleh Al-Albani dalam Shahih
Al-Jami’ no. 2571
[15] Ash
Shalah wa Hukmu Tarikiha hal. 107
[16] Syarh
al-Bukhari, al-‘Utsaimin, 3/62, Fathul Bari, 2/154—157, dinukil dari situs..
Subscribe to:
Posts (Atom)